Epistemologi dan Ontologi Ilmu Pengetahuan



Oleh: Jaharuddin

Pengantar

Filsafat ada karena katakjuban, ketidak puasan, hasrat bertanya, dan keraguan[1]. Empat alasan inilah akhirnya menimbulkan ilmu pengetahuan - ilmu pengetahuan yang baru, dengan demikian filsafat tersebut adalah Ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni, atau penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu[2].
Dalam perkembangannya filsafat ini akhirnya terbagi menjadi cabang – cabang ilmu tersendiri sesuai dengan spesifikasi pembahasan dari cabang ilmu tersebut. The World University Encylopedia[3] membagi filsafat ke dalam cabang-cabang sebagai berikut :
1. Epistemology
2. Metafisika
· Ontologi
· Kosmologi
· Teologi metafisik
· Antropologi
3. Logika
4. Etika
5. Estetika
6. Filsafat tentang bebragai disiplin Ilmu
Dalam tulisan ini, penulis akan membahas sebagian topik saja yaitu, Epistemologi dan Ontologi dalam presefektif yang tidak membedakan sudut pandang islam dan non islam karena dalam Konteks ilmu pengetahuan sebenarnya tidak ada perbedaan dikotomi antara ilmu pengetahuan islam dan ilmu pengetahuan non islam, karena pada hakekatnya ilmu pengetahuan tersebut adalah wilayah “putih” bisa disentuh dan dimasuki oleh semua pihak baik islam maupun tidak.
Maka dalam tulisan ini penulis mencoba merekonstruksi pandangan ilmu pengetahuan tentang Ontologi dan Epistemologi Ilmu pengetahuan yang didalamnya sudah melingkupi ontology dan epistemology islam.
Di bagian akhir tulisan ini penulis juga akan menampil tawaran-tawaran islamisasi ilmu pengetahuan dan akan lebih sepecifikasi lagi tentang islamisasi ekonomi.

Epistemologi Ilmu Pengetahuan
Istilah Epistemologi berasal dari bahasa Yunani (Gree: episte = knowledge + Logos = theory).. Jadi Epistemology adalah teori ilmu pengetahuan (theory of knowledge, Erkennisttheorie).[4] Sedangkan Aristoteles mengemukan Epistemologi sebagai suatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan rasional dengan obyeknya sendiri yang tepat[5]. Lebh rinci lagi menurut Hunnex, Epistemologi merupakan suatu cabang filsafat yang membahas tentang sifat dasar, sumber, dan validitas pengetahuan.[6] Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang ilmu pengetahuan disebut dengan epistemology. Dari Pengertian dasar Hunnex di atas maka dapat diambil benang merah fokus pembahasan epistemology adalah[7]:
Dari mana memperoleh Ilmu pengetahuan (Sumber pengetahuan) ?
Bagaimana hubungan antara subyek yang mengetahui dengan obyek yang diketahui ( struktur, situasi pengetahuan)?
Apa kriteria pengetahuan yang disebut benar?
Apa yang menjadi batas (wilayah) ilmu pengetahuan?

a. Cara memperoleh Ilmu.
Dalam konsep filsafat islam, ilmu diperoleh melalui dua jalan[8] yaitu jalan Kasbi atau Khushuli dan jalan Ladunni atau Khuhuri. Jalan kasbi adalah cara berfikir sistematis dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui proses pengamatan , penelitian, percobaan dan penemuan. Ilmu ini biasa diperoleh oleh manusia pada umumnya, sehingga seorang yang menempuh proses itu dengan sendirinya ia akan memperoleh ilmu tersebut. Sedangkan ilmu Ladunni, diperoleh orang-orang tertentu, dengan tidak melalui proses ilmu pada umumnya, tetapi oleh proses pencerahan oleh hadirnya cahaya ilahi dalam qalb, dengan hadirnya cahaya ilahi itu semua pintu ilmu terbuka menerangi kebenaran , terbaca dengan jelas dan terserap dalam kesdaran intelek, seakan-akan orang tersebut memperoleh ilmu dari tuhan secara langsung. Disini Tuhan bertindak sebagai pengajarnya.
Untuk metode memperoleh ilmu pengetahuan dengan metode Kasbi dengan metode yang sitematik dan metodik, metode ini tidak menjadi perdebatan panjang ketika di tawarkan pada forum ilmiah, karena sesungguhnya metode yang dipakai zaman sekarang sebagian besar adalah metode kasbi ini. Namun yang menarik adalah dalam filsafat islam dikenal juga metode laduni yang menjadi kajian, apakah ini mungkin ?. untuk menjawab pertanyaan ini maka kita telusiri beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang hal ini sebagai berikut :
“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian menyodorkannya kepada para malaikat lalu berfirman : baritahukanlah pada-Ku nama-nama semua itu, jika kamu memang benar. Mereka menjawab : Maha suci engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau-lah yang maha tahu dan maha bijak”
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menjadi pengajar bagi Adam tentang nama benda-benda, kemudian , bisa dilihat dalam Surat Al-Alaq ayat 3 – 5 berikut ini :
“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, (3),Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. (:4), Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (:5). Ayat ini memperjelas bahwa Allahpun menjadi pengajar ummat manusia, bukan hanya nabi Adam. Inilah konsep islam tentang sumber ilmu pengetahuan.
b. Obyek Kajian Ilmu
Obyek kajian ilmu adalah ayat-ayat Allah sendiri, yaitu ayat-ayat Allah yang tersurat dalam kitab suci yang berisi firman-firman-Nya, dan ayat-ayat allah yang tekandung dalam Ciptaan-Nya yaitu alam semesta dan diri manusia sendiri. Kajian kitab suci kembali akan melahirkan ilmu agama, sedangkan kajian terhadap alam semesta, dalam dimensi fisik atau materi, melahirkan ilmu alam dan ilmu pasti, termasuk didalamnya kajian terhadap manusia dalam kaitanya dengan dimensi fisik, akan tetapi pada dimensi non fisiknya, yaitu perilaku, watak dan eksistensinya dalam berbagai aspek kehidupan, melahirkan ilmu humaniora, sedangkan kajian terhadap ketiga ayat-ayat Allah itu pada tingkatan makna, yang berusaha untuk mencari hakikatnya, melahirkan filsafat[9]. Landasan syariah pembagian obyek ilmu pengetahuan ini adalah sebagai berikut , dapat dilihat pada Az-Zukhruf ayat 3 dan 4 berikut ini :”Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Dan sesungguhnya al-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (QS. 43:3 - 4).
Ayat ini menjelaskan tentang Al-Qur’an sebagai obyek berfikir dan menjadi pusat pengetahuan. Sementara tu tentang alam sebagai obyek pemikiran untuk kepentingan manusia dapat dilihat pada ayat Al-Jatsiyah ayat 5 berikut ini “dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (QS. 45:5)”. Ayat lain yang juga mengabarkan hal yang sama dapat dilihat pada Surat An-Nahl ayat 11 dan 12 berikut ini “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu.Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya), (QS. 16:11 - 12).
Sedangkan mengenai manusia dapat dilihat dalam Surat Ar-rum ayat 20-21 berikut ini : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. 30:20 - 21)
c. Kebenaran Ilmu
Kebenaran dalam wacana ilmu adalah ketepatan metode dan kesesuaian antara pemikiran dengan hukum-hukum internal dari objeyek kajiannya[10]. Dalam epistemology dan filsafat ilmu pengetahuan dikenal empat macam teori kebenaran yaitu[11] :
1. Teori Kebenaran Korespondensi (the Correspondence of Truth, the accordance theory of truth), menyatakan bahwa suatu teori/proposisi benar bila proposisi atau teori itu sesuai dengan fakta (kenyataan). Kebenaran adalah kesetiaan pada realitas obyektif. Aristoteles menyebut ini dengan teori pengambaran/cermin yang ia rumuskan sebagai “veritas est adaequatio intellectus et rhei”
2. Teori Kebenaran Konsistensi atau koherensi (the concistence theory of truth, the accodance theory of truth).
Kebenaran adalah saling hubungan antar putusan-putusan atau kesesuaian/ketaatasasan dengan kesepakatan atau pengetahuan yang telah dimiliki.
3. Teori kebenaran Pragmatis (the pragmatic theory of truth)
Benar tidaknya suatu teori justru ditentukan oleh bemamfaat atau tidaknya teori itu bagi praksis kehidupan. Bahkan schiller [12] menyatakan apa “yang berguna” (usefull) adalah benar dan yang “tidak berguna” (useless) adalah salah.
4. Teori kebenaran Performatif
Kebenaran dikaitkan dengan pernyataan, maka suatu pernyataan dikatakan benar apabila apa yang dinyatakan dilakukan sesuai dengan tindakan dan kewenangan yang ada padanya. Austin[13] syarat tuturan performatif yang wajar sebagai berikut:
a. Tuturan itu dituturkan dalam situasi yang tepat sehingga pernyataan mempunyai efek bagi tindakan.
b. Harus diucapkan orang yang memiliki kempetensi/wewenang untuk itu.
c. Harus ada tangapan dan keterbukaan dua pihak, sehingga tuturan benar-benar menjadi tindakan.
d. Ada kesesuaian antara ucapan orang yang menyatakan tuturan dengan tindakannya sendiri.
Dalam filasafat islam, kebenaran sesungguhnya datang dari allah, melalui hukum-hukumnya yang sudah ada dan ditetapkan pada setiap ciptaan-Nya,yaitu dalam alam semesta, manusia dan Al-qur’an. Semua itu merupakan ayat-ayat Allah yang menjadi sumber kebenaran yang terkandung dalam sunnatullah : hukum alam, hukum akal sehat dan juga hukum agama (moralitas). Hal ini ditegaskan Allah dalam surat Ali imran ayat 60 berikut ini : “(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 3:60). Kemudian di jelaskan dalam Surat Sabaa’ ayat 6 : “supaya Allah nenberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh.Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia. (QS. 34:4). Tentang kebenaran alam semesta dinyatakan dalam surat Yunuus ayat 5 berikut ini : “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. 10:5). Dilanjutkan dalam surat Al-hijr ayat 85 berikut ini : “Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar-benar.Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. (QS. 15:85). Untuk kebenaran Al-qur’an dinyatakan Allah dalam Surat Al-Baqarah : 213 berikut ini “Manusia itu adalah ummat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. 2:213). Untuk manusia dijelaskan dalam surat Fussilat ayat 53 berikut ini : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu benar.Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu (QS. 41:53).
e. Tujuan Ilmu
Pada prinsipnya tujuan ilmu adalah konseptualisasi fenomena-fenomena alam dan menjelaskan hukum kausalitas serta menemukan asas-asas umum. Tujuan itu sesungguhnya untuk mendukung manusia menemukan tertib kosmos yang berada disekitarnya. Ketika ilmu telah melakukan specialisasi disiplin, tampak bahwa ilmu kehilangan watak kesatuannya guna mendukung kosmos (keteraturan dan kebijaksanaan) manusia. Ia tidak menciptakan kebijaksanaan itu, bahkan malah melawannya[14].
Dalam konsep filsafat islam, ilmu pada hakikatnya merupakan perpanjangan dan pengembangan ayat-ayat Allah, dan ayat-ayat Allah merupakan eksistensi kebesarnya dan manusia diwajibkan untuk berfikir tentang ayat-ayat Allah. Dan ilmu yang ada bertujuan untuk menciptakan kedamaian dan menjauhkan diri dari kerusakan, dan terjauh dari perangkap hawa nafsu seperti terlihat dalam surat Al-Mukminuun ayat 71 berikut ini : “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (QS. 23:71).
e. Ilmu dan Etika
Dalam pandangan filsafat islam kebenarn tidak boleh terjebak dalam perngkap hawa nafsu, dengan demikian etika ilmu harus berpihak kepada kebenaran, pembebasan manusia dan kemandirian artinya tidak boleh terkooptasi oleh system yang menindas[15]. Seperti yang terdapat dalam surat An-nisa’ ayat 161-162: “dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah melarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu'min, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (al-Qur'an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar. (QS. 4: 161 - 162). Kemudian dijelaskan pula dalam Surat Al-Ja’atsiyah ayat 23-24 berikut ini : “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)
Dan mereka berkata:"Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. 45:24).

Ontologi Ilmu Pengetahuan
Ontologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang membahas pandangan terhadap hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah, termasuk pandangan terhadap sifat ilmu itu sendiri[16]. Topik-topik menarik yang sering dibahas dalam topik ontology ini adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul sekitar Apakah realitas atau ada yang begitu beraneka ragam dan berbeda-beda pada hakikatnya satu atau tidak ? apabila memang benar satu, apakah gerangan yang satu itu ? apakah eksistensi yang sesungguhnya dari segala sesuatu yang ada itu merupakan realitas yang tanpak atau tidak ?.
Terdapat 3 teori ontologis[17], yaitu :
Teori idealisme
Teori ini mengajarkan bahwa ada yang sesungguhnya berada didunia ide. Segala sesuatu yang tampak dan mewujud nyata dalam alam inderawi hanya merupakan gambaran atau bayangan dari yang sesungguhnya, yang berada di dunia ide. Dengan kata lain, realitas yang sesungguhnya bukanlah yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan.

Teori Materialisme
Materialisme menolak hal-hal yang tidak kelihatan. Bagi materialisme, ada yang sesungguhnya adalah keberadaanya semata-mata bersifat material atau sama sekali bergantung pada material. Jadi, realitas yang sesungguhnya adalah alam kebendaan, dan segala sesuatu yang mengatasi alam kebendaan itu haruslah dikesampingkan. Oleh sebab itu, seluruh realitas hanya mungkin dijelaskan secara materialistis.
Teori Dualisme
Dualisme mengajarkan bahwa substansi individual terdiri dari dua tipe fundamental yang berbeda dan tak dapat direduksi kepada yang lainnya. Kedua tipe fundamental dari substansi itu ialah materil dan mental. Dengan demikian, dualisme mengakui bahwa realitas terdiri dari materi atau yang ada secara fisis dan mental atau yang beradanya tidak kelihatan secara fisis.
a. Yang Ada (being)
Dalam konsep filsafat ada beberapa faktor yang menentukan adanya pencipataan, yaitu[18] : (1).adanya pencipta (Subyek). (2). Adanya ciptaan (Obyek). (3). Adanya bahan yang dipakai. (4). Adanya tujuan. (5). Adanya proses. Dalam konsep islam yang ada dalam visi transcendental menegaskan bahwa pada hakekatnya otoritas manusia (kultur) terhadap alam (nature), tidklah mutlak, bahkan pada satu sisi fisik manusia pada dasarnya adalah manusia tersebut adalah bagian dari alam. Dengan demikian merusak alam berarti merusak dirinya sendiri, merusak hidup dan kehidupannya seperti terlihat dalam surat Ar-ruum ayat 41 berikut ini : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. 30:41). Dan fungsi manusia adalah dalam rangka memakmurkan muka bumi seperti terlihat dalam Surat Huud ayat 61 dan surat Al-Baqarah ayat 164, berikut ini : “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata:"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do'a hamba-Nya)". (QS. 11:61) dan “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. 2:164).
b. Yang Nyata (realitas)
Realitas artinya sesuatu yang berada pada sesuatu (aliquid est), atau segala sesuatu yang yang eksis yang merupakan bagian dari kesadaran[19]. Hakikat realitas adalah immateri yang memateri, suatu spritualitas yang faktual. Spritualitasnya terletak pada adanya dinamika dan perubahan, dan dipengaruhi sepenuhnya dinamika dan perubahan, dan dipengaruhi sepenuhnya oleh konteks kehidupan manusia itu sendiri, faktualnya adalah data-data empirik yang meruang waktu, yang satu keadaan dengan keadaan lainnya berbeda-beda, berubah sesuai dengan tuntutan konteks dan jaman, sifatnya sangat terbatas, baik dalam kaitan dengan tempat ataupun waktu, yang nyata secara faktual tidak pernah menjadi keabadian.
Filsafat islam memandang realitas hakekatnya adalah spritualitas, dengan demikian maka diperlukan sikap yang arif untuk menyikapinya agar manusia tidak terjebak pada kebangaan golongan karena lebih benar seperti diungkap pada ayat berikut ini :” yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. 30:32). Dan Syari’at (Spritualitas) Allah tersebut adalah mutlak tetap seperti terlihat pada : “karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena (rencana) mereka yang jahat.Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu.Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. (QS. 35:43)
c. Esensi dan Eksistensi
Bagi ada yang gaib, sisi yang nampak adalah eksistensi, sedangkan bagi ada yang kongret, sisi yang nampak bisa kedua-duanya, yaitu esensi dan eksistensi. Dalam konteks filsafat islam, islam memandang pentingnya tindakan ( amal saleh) daripada gagasan spekulatif. Persoalan esensi dipandang selesai, karena pada hakekatnya esensi akan kembali dan berpusat pada Allah, Karena Allah yang menciptakan segala sesuatu yang ada dalam kehidupan ini. Justru persoalannya terletak pada eksistensi, islam mengariskan kebudayaan yang merupakan wujud kosmik manusia menjadi wasilah pengabdian kepada Allah, sehingga kebudayaan bergerak sebagai bentuk kesadaran transedental dalam beribadah kepada Allah SWT, seperti terlihat dalam ayat-ayat berikut ini : “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, (QS. 67:1).Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. 67:2) dan Surat Al-Kahfi ayat 110 : “Katakanlah:"Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:"Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhan-nya". (QS. 18:110)
d. Hakikat Kemajemukan (Pluralitas)
Islam mengakomodir kemajemukan tersebut merupakan bagian dari keagungan Allah, hampir semua ciptaan Allah selalu beragam. Namun Allah tentunya mempunyai maksud diciptakannya kemajemukan ini, salah satunya adalah untuk berlomba-lomba dalam mengapai kebaikan seperti terlihat dalam surat Al-Maidah ayat 48 berikut ini : “Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS. 5:48).
Maksdud lainnya adalah untuk saling kenal mengenal seperti terlihat dalam surat Al-Hujrat ayat 13 berikut ini : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. 49:13).
e. Hakikat perubahan
Jika ada yang abadi pada kehidupan di dunia ini, maka yang abadi itu adalah perubahan, karena realitas yang sesungguhnya adalah bergerak dan mengalir, dalam konsep islam dinyatakan hakekat perubahan tersebut adalah bagian dari sunnatullah seperti terlihat dalam surat Ali imran ayat 140 dan surat Al-Hasyr ayat 7 berikut ini : “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, (QS. 3:140). Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)

Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Saat ini ilmu pengetahuan sudah sekuler dan jauh dari nilai-nilai tauhid [20]. Benarkah ungkapan Tokoh Islamisasi ilmu pengetahuan tersebut, sampai hari ini masih terjadi silang pendapat dikalangan ilmuan tentang keberadaan islamisasi ilmu pengetahuan, sebagian berpendapat bahwa sebenarnya ilmu pengetahuan tersebut terlepas dari nilai-nilai, karena kalau ilmu pengetahuan terkekang dengan nilai-nilai maka ilmuan lainnya akan mempertanyakan obyektivitas ilmu tersebut, sebaliknya ada pula ilmuan yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tersebut tidak terlepas dari seperangkat nilai yang dianut ilmuannya, sehingga seperangkat nilai yang dianut tersebut mempengaruhi ilmu pengetahuan tersebut, ada pula yang mengklaim seperti yang diungkapkan oleh Ismail Al-faruqi diatas.
Terlepas dari pro kontra islamisasi ilmu pengetahuan dibeberapa kalangan ilmuan, kita melihat timbulnya gelombang kesadaran di kalangan ilmuan, untuk mengarah kepada keilmuan yang diiringi oleh nilai-nilai ilahiyah, yang pernah dirasakan di zaman kemasan islam beberapa abad yang lali, dan banyak yang sepakat bahwa kemajuan barat hari ini tidak terlepas dari kejayaan islam yang penah ada. Dan kerinduan para ilmuan dan ummat ini terhadap kejayaan islam dari hari kehari semakin bertambah. Di Bidang ilmu pengetahuan gagasan ini di seiringkan dengan ruh kebangkitan (renaisans kedua) islam,. Terdapat beberapa tokoh yang telah mengagas islamisasi ilmu pengetahuan ini diantaranya Hasan Al-Athar (1766-1835), Sayyid Jamal Al-Din Al-Afghani (1897-1939), Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad iqbal, dan beberapa ilmuan mutakhir lainnya termasuh Ismail al-Faruqi.
Dalam bentuk Konfrensi internasional maka konfrensi internasional sebagai berikut :
Diawali dengan Association of Muslim Social Science (AMSS), membahas islamisasi Ilmu pengetahuan
World Confrences of muslim Education di Mekkah tahun 1997
Konfrensi di Swiis tahun 1977.
International Symposium on Psycology and Islam di Universitas Ryad (Arab Saudi), tahun 1978
World Confrences of muslim Education di dakka tahun1981
Konfrensi di Islamabad Pakistan pada tahun 1982
World Confrences of muslim Education di Jakarta 1983
Dari konfrensi internasional ini para ilmuan yang bersimpati tentang islamisasi berkumpul, dan akhirnya memunculkan beberapa lembaga islamisasi ilmu pengetahuan, diantaranya The International Institute of Islamic Thought (IIIT), bahkan sekarang telah mempunyai cabang di beberapa negara muslim.
Hanna Jumhana Bastaman [21]mengemukakan beberapa model yang dilakukan dalam Islmisasi ilmu pengetahuan mulai yang paling superficial sampai pada model yang paling mendasar. Model dan pola itu antara lain :
Similarisasi adalah upaya untuk menyamakan begitu saja konsep-konsep ilmu pengetahuan dengan konsep-konsep yang berasal dari agama. Kelemahan model ini adalah penyamaan konsep itu terlalu menyederhanakan persoalan, karena jelas sekali berbagai konsep yang berkembang dalam ilmu pengetahuan di barat, tidak sama dengan konsep dan khasanah islam.
Paralelisme adalah mensejajarkan (memparalelkan) konsep yang berasal dari khasanah Al-qur’an dengan konsep yang berasal dari ilmu pengetahuan, karena kemiripan konotasinya.
Komplementasi, adalah keyakinan dan upaya menjelaskan bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan saling melengkapi, seling memperkuat satu sama lain, walupun keduanya tetap berada pada wilayah yang berbeda.
Komparasi, adalah membandingkan konsep/teori ilmiah dengan konsep agama mengenai gejala-gejala yang sama.
Induktivikasi, adalah asumsi-asumsi dasar dari teori-teori ilmiah yang didukung temuan empiris dilanjutkan kearah pemikiran metafisik, yang kemudian dihubungkan dengan pandangan keagamaan (Al-qur’an) tentang masalah tersebut.
Verifikasi, adalah mengungkapkan hasil penelitian ilmiah, akan menunjang dan membuktikan kebenaran-kebenaran (Ayat-ayat Allah)
Terdapat banyak pilihan dari islamisasi ilmu pengetahuan, dan inlah yang sedang berlangsung hari ini, namun yang pasti adalah langkah-langkah tersebut harus terencana dan sistematis. Langkah-lengkah sistematis Ilmu pengetahuan tersebut adalah sebagai berikut :
Perlu penguasaan berbagai disiplin ilmu pengetahuan modern, tentang kategorinya, prinsip-prinsipnya, metodologi, tema-tema dan problemnya.
Mensuvey disiplin ilmiah tersebut (sejarah perkembangannya, tokoh-tokoh serta berbagai hal yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan di Barat).
Penguasaan khasanah ilmu islam dalam tahap perbuatan (Antologi), memahami sumbangan pemikiran islam bagi dunia modern, seberapa besar sumbangan itu serta kekeliruan dan hal yang menyebabkan mundurnya dunia islam dalam ilmu pengetahuan dan teknologi apa upaya untuk mengatasi masa lalu itu.
Penguasaan khasanah ilmu pengetahuan islam dalam tahap analisis (Antologi) lalu menganalisis apa yang tidak sesuai dan apa yang relevan dengan pandangan islam.
Menentukan relevansi islam yang khas bagi disiplin-disiplin ilmu itu, metode, prinsip, problem, tujuan, harapan, hasil dan capaian, keterbatasan, harus difahami, lalu dikaitkan/dibandingkan dengan khasanah dan pandangan islam.
Analisis kritis terhadap masing-masing sudut pandang (paradigma modern islam) membandingkan serta mencari yang terbaik.
Mengkritisi khasanah budaya dan ilmu pengetahuan islam masa kini.
Mensurvey masalah yang dihadapi umat islam (ekonomi , social, politik), mengkritisi moral dan intelktual islam.
mensurvey bebrbagai hal yang dihadapi umat manusia sekarang dan sejauh mana islam sebagai rahmatan lilalamin dapat dijalankan.
Membuat sintesa ilmu pengetahuan modern dengan ilmu pengetahuan pandangan islam.
Menyusun buku-buku text books ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kerangka, dinamika perkembangan pemikiran dan keilmuan islam.
Menyebar luaskan berbagai buku-buku yang telah di islamisasi ke sekolah/lembaga keislaman, dikuti dengan seminar, symposium, lokakarya, dll. Serta meningkatkan insentif di lembaga islamisasi agar tidak terjadi “pelarian” tenaga SDM

Islamisasi ilmu Ekonomi
Ilmu Ekonomi merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang langsung mempengaruhi urat nadi perjalanan kehidupan bangsa-bangsa di dunia, bahkan dunia, setiap orang mempunyai kepentingan terhadap ilmu ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian, ilmu ekonomi memegang peran strategis dalam proses islamisasi ilmu pengetahuan. Apalagi belakangan ini terdapat fenomena terjadinya kegagalan yang beruntun dari system ekonomi yang selama ini di anut oleh negara di dunia. Para perencana pembangunan di dunia sekarang lagi mencari alternatif pemecahan maslah-masalah ekonomi dan kemanusiaan yang tenyata selama ini terbaikan, ketika angka-angka ekonomi membaik berdampak terbalik dengan nilai kemanusiaan, dan sebaliknya, apakah islam mampu memberikan solusi tepat dalam menyelesaikan kasus ini ?
Sebagai umat yang beriman, maka kita menyadari sepenuhnya bahwa islam mampu menjawab tantangan zaman tersebut, walaupun mengoperasionalisasikan konsep ekonomi islami tersebut tidaklah mudah. Islamisasi sedang berlangsung , kalau kita gunakan model Bastaman maka cendrung proses islamisasi di bidang ekonomi mengunakan model similarisasi, paralelisme dan komplementasi.
Dalam pandangan Baqir Sadr (1979)[22], ilmu ekonomi dapat dibagai menjadi dua bagian, (1). Filosofi ekonomi. (2). Ilmu Ekonomi. Perbedaan ekonomi islam dengan ekonomi konvensional terletak pada filosopi ekonomi, bukan pada ilmu ekonominya. Filosopi ekonomi memberikan ruh pemikiran dengan nilai-nilai islam dan batasan-batasan syariah. Sedangkan ilmu ekonomi berisi alat-alat analisis ekonomi yang dapat digunakan.

Penutup
Demikianlah tulisan singkat yang membahas seputar Epistemologi dan Ontologi Ilmu pengetahuan. Diawal tulisan ini penulis tegaskan bahwa dalam penulisan, penulis mencoba tidak mempertajam perbedaan konsep ilmu pengetahuan non islam dengan konsep ilmu pengetahuan islam ditinjau dari Epistemologi dan Ontologi ilmu pengetahuan.
Dalam penulisan pembaca bisa melihat ketika berbicara epistemologi maka di akhir pembahasan tetap penulis sisipkan pandangan islam terhadap konsep tersebut. Tulisan ini dilanjutkan dengan melihat perkembangan islamisasi ilmu pengetahuan dan di akhiri dengan ulasan sangat singkat upaya strategis islamisasi di bidang ilmu ekonomi.
Penulis sangat menyadari tulisan ini masih sangat dangkal, namun semoga saja tulisan singkat ini mampu memberikan kontribusi positif kepada semua pihak, dan semoga bermamfaat.


DAFTAR PUSTAKA
1. Yusuf, Akhyar, Pengantar : Pengertian Epistemologi, Logika, Metodologi, Diktat Kuliah PKTTI UI, 2002
2. Agus, Bustanuddin, Pengembangan ilmu-ilmu sosial, Studi Banding Antara pandangan ilmiah dan ajaran islam, GIP Jakarta, 1999.
3. Rapar, Hendrik, Jan, Pengantar Filsafat, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2001
4. Asy’arie, Musa, Filsafat Islam, Sunnah Nabi Dalam Berpikir, Lembaga Studi Filsafat, Yogyakarta, 2001
5. Karim, Warman, Adi, Ekonomi Mikro Islami, IIIT Jakarta, 2002.
6. Al-Faruqi, Ismail , Islamisasi Pengetahuan Model Ismail Al-Faruqi, Artikel di Media Indonesia, 21 Oktober 2002


[1] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, 2001, hal 16
[2] Plato, dalam jan Hendrik Rapar, Op Cit, 2001, hal 15
[3] Jan Hendrik Rapar, Op Cit, 2001, hal 36
[4] Pranarka 1987; 3-5, Dalam Akhyar Yusuf, Diktat Kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan ,2002, hal 3
[5] Akhyar Yusuf, Op Cit, hal 3
[6] Dalam Akhyar Yusuf, Op cit, hal 3
[7] Akhyar Yusuf, Op Cit, ha; 4
[8] Musa Asy’arie, Filsafat Islam, Sunnah Nabi Dalam Berpikir, 2001, hal 74
[9] Musa Asy’arie, Op Cit, 2001, hal 68.
[10] Musa Asy’arie, Op cit, 2001, hal 78-79
[11] Akhyar Yusuf, Pengantar, Pengertian, Epistemologi, Logika, metodologi, 2002, hal 20
[12] Dalam Akyar Yusuf, Op cit, 2002, hal 21
[13] Dalam Akyar Yusuf, Op cit, 2002, hal 22
[14] Wissenscaft als Widersacher der Weisheit. J.W. M. Bakker, dalam Musa Asy’arie, Op Cit hal 83.
[15] Musa Asy’arie, Op Cit, 2001, hal 89
[16] Bustanuddin Agus, Pengembangan ilmu-ilmu sosial, Studi Banding Antara pandangan ilmiah dan ajaran islam, 1999, hal 23
[17] Jan hendrik Rapar, Op Cit, hal 45
[18] Musa Asy’arie, Op cit, hal 41
[19] Peter A. Angeles, Dictionary of Philosophy, dalam Musa Asy’arie, Op cit, hal 46
[20] Ismail Al-Faruqi, Islamisasi Pengetahuan Model Ismail Al-Faruqi, Artikel di Media Indonesia, 21 Oktober 2002
[21] Dalam, Akhyar Yusuf, Epistemologi, Paradigma Ilmu Pengetahuan islam dan Islamisasi ilmu pengetahuan, 2002, hal 10.
[22] Dalam Adi warman Karim, Ekonomi Mikro Islami, 2002, hal 81
--------------
Makalah ini ditulis oleh penulis saat mengambil mata kuliah filsafat ilmu pengetahuan di pasca sarjana ekonomi dan keuangan syariah UI, tahun 2002

, , ,

0 comments

Write Down Your Responses

catatan2 universitas Kehidupan

"Inti dari Kecerdasan adalah Bermanfaat" . Powered by Blogger.